Menjadi Guru Seperti Rasulullah Muhammad

MuhammadMenjadi Guru Seperti Rasulullah Muhammad

Rasulullah Muhammad adalah contoh guru terbaik yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Banyak teladan yang Rasulullah Muhammad contohkan kepada kita agar kita bisa mengamalkannya untuk kehidupan umat manusia. Salah satu contohnya adalah ketulusan beliau dalam mengajari para sahabat beliau meskipun para sahabat tidak memberikan upah sedikit pun. Padahal kalo kita cermati, ilmu yang diberikan Rasulullah Muhammad sangat mahal harganya, yaitu ilmu agama dan ilmu dunia. Kedua Ilmu itulah yang tidak hanya menyelamatkan manusia di dunia tetapi juga di akhirat. Dan bila kita hitung dengan hukum hak paten, tentu Rasulullah adalah orang yang paling kaya karena ilmu yang beliau sampaikan masih tetap ada hingga sekarang. Dari sisi orang sukses harta, siapa yang tak kenal dengan Abdurrahman bin Auf. Bayangkan saja, saat pertama kali datang ke Madinah tak memiliki apa-apa ketika meninggal beliau tinggalkan milyaran harta waris untuk para istrinya. Dari sisi kesalehan, tentu tak terbilang banyaknya. Dan dalam sejarah, kita mencatat bagaiaman salehnya manusia seperti Abu Bakar Ash Sidiq. Sekali lagi, Rasulullah Muhammad mengajarkan ilmu dengan ketulusan, bukan semata mencari bayaran dunia. Inilah yang harusnya kita tanamkan dalam diri kita, mengajar adalah ibadah. Menjadi guru adalah profesi mulia yang tidak harus selalu diukur dengan uang dan uang.

Hal kedua yang perlu kita contoh dari Rasulullah Muhammad adalah kesabaran beliau dalam mengajar. Tentu kita semua ingat penolakan yang dilakukan oleh para penduduk Thaif akan ajakan Rasulullah Muhammad. Kala itu, penduduk Thaif melempari beliau dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Sejurus kemudian, Malaikat Jibril meminta ijin untuk menghukum penduduk Thaif dengan menimpakan gunung kepada penduduk Thaif. Tapi, luar biasa…Rasulullah Muhammad justru mendoakan kebaikan kepada penduduk Thaif. Di sinilah mental seorang pendidik harusnya terbentuk. Dia harus sabar menerima cobaan dan rintangan yang ada. Bukankah besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian?

Dahulu, ketika gaji para pendidik tidak sebesar sekarang. Kita memiliki beberapa guru yang begitu sederhana dan gigih dalam mencerdaskan muridnya. Di suatu desa, ada guru yang harus berjualan makanan ringan untuk menfkahi keluarganya. Tentu kita juga ingat bagaimana Novel Laskar Pelangi mengabarkan kisah-kisah guru luar biasa. Karena ketulusan para guru itu, para murid begitu hormat kepada mereka sehingga setiap petuah yang mereka katakan akan dilakukan. Hingga kami dewasa, kita begitu menghargai ilmu mereka dan selalu ingat wejangan mereka. Namun di era modern yang konon pendidik harus bergaji tinggi, sering terjadi siswa yang tidak patuh kepada guru. Tentu tidak semua begitu, namun mayoritas siswa sekarang kurang menghargai pendidik. Sebelum melimpahkan kesalahan kepada para siswa, tentunya harus ditanya tentang ketulusan para pendidik mengajar. Apakah karena uang atau karena ibadah? Insya Allah bila karena ibadah, siswa didik kita pun akan menjadi orang-orang terbaik di masanya.