Pelajaran Hidup Si Tukang Sayur

nenek_petani_by_vevryPelajaran Hidup Si Tukang Sayur

Sudah lebih dari 20 tahun, ibu itu setia dengan profesinya sebagai penjual sayur. Selama itu, ia berangkat di waktu pagi dan pulang di waktu sore untuk mendapat beberapa lembar rupaih. Tahukah kalian wahai saudaraku, berapa jarak yang harus ia tempuh? 20 km harus ia tempuh untuk menyambung hidup dirinya dan anaknya. Walau ada angkutan yang bisa memboncengkan tubuhnya yang kurus, namun rasanya tak sepadan bila dibanding dengan beban berat dagangan yang harus ia gendong setiap harinya. Dan itu semua, ia lakukan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Kesetiannya pada pekerjaan itu bukan karena kesenangan melainkan tuntutan kebutuhan yang harus ia kerjakan demi menyambung hidup dirinya, anaknya, dan bapaknya. Hujan atau panas ia tetap kayuhkan kakinya untuk ke pasar, demi sebuah asa mencukupi kebutuhan keluarga. Wahai saudaraku, tahukah kalian berapa uang yang sering ia bawa pulang ke rumah? Rata-rata hanya Rp 30.000,- yang ia bawa pulang, bahkan sering membawa tangan hampa. Untuk membayar angkot pun kadang harus menghutang. Sekali lagi wahai saudaraku, hanya Rp 30.000,- dan seringkali tidak membawa pulang uang. Sebuah perjuangan yang rasanya sulit dilakukan selama 20 tahun.

Hebatnya, si ibu itu sanggup menafkahi keluarganya. Walau kadang harus pontang-panting hutang sana dan hutang sini, ia sanggup bertahan. Bertahan dan terus bertahan. Ia tak peduli dengan cibiran orang akan kemiskinannya, ia tak pernah ambil pusing walau hanya makan nasi dan garam, ia tak pernah mengeluh walau keringatnya seharian tak berbalas, dan ia tak pernah gundah meskipun tak ada uang untuk membayar kebutuhan hidup. Semua ia pasrahkan kepada Dzat yang telah menciptakannnya. Hebatnya, dengan penghasilan sekitar Rp 30.000,-/hari untuk menghidupi anak dan orang tua, ia masih mampu bertahan. Karena apakah itu semua? SYUKUR dan KEBERKAHAN

Wahai saudaraku, mungkin kita adalah pribadi yang diberi keluasan rizki. Memiliki uang Rp 100.000,- pun kadang kita mengatakan bokek, bisa makan setiap hari pun mengaku orang miskin, punya gadget dan laptop pun merasan tak punya apa, bahkan punya penghasilan atau diberi uang bulanan 1 juta pun kita masih merasa kurang. Coba kita bandingkan dengan ibu itu. Bagaimana bahagianya jika ia bisa menyantap seperti apa yang kita santap, dan memiliki apa seperti yang kita miliki. Namun sekali lagi, ibu itu lebih memilih untuk tetap bersyukur dan mencari rizki yang barokah. Ia tak pernah mematok gaji sekian dan sekian, namun ia selalu melakukan apa yang ia bisa dengan sepenuh jiwa. Cukup baginya Alloh yang telah memberikan rizki, besar atau kecil wajib disyukuri.
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”